Di suatu kemarau yang gersang, danau, sungai, dan mata air telah mengering. Burung-burung mulai bermigrasi ke daerah lain, berjuang untuk setitik air demi penghidupan. Rusa, gajah, harimau dan semua penghuni padang itu mulai mencoba peruntungan dengan berjalan kaki ke daerah lain.
Diantara binatang itu ada yang tengah gelisah dengan nasibnya. Berkata nelangsa ia dalam hati, “Betapa beruntungnya mereka diciptakan Tuhan dengan bisa bertahan agak lama tanpa air dan bisa berjalan dengan cepat untuk mencari air. Betapa beruntungnya burung-burung itu, dia punya sayap yang bisa terbang, dia bisa kemana saja mencari air dengan mudah, sedang aku… aku hanya seekor kura-kura yang akan segera mati tanpa air, aku tidak bisa berjalan cepat, apalagi terbang. Amboi.. alangkah elok jika ada yang menolongku yang tinggal seorang diri di sini.”
“Kenapa melamun wahai kura-kura?” Tersentak kura-kura dengan suara yang tiba-tiba sudah didekatnya. Ternyata Bangau yang dari tadi memperhatikan Kura-kura. “Tidakkah kau ikut mereka bermigrasi?”. ”Maksud hati demikian Bang, tapi apa daya aku tidak bisa berjalan cepat, apalagi tubuhku mulai lemah karena beberapa hari ini aku tidak makan dan minum,” jawab kura-kura memelas”. ”Kasihan sekali kamu Kur, baiklah aku akan membantumu, aku akan membawamu terbang ke daerah selatan yang ada airnya, sekarang gigitlah kayu ini dan aku akan mengangkatnya, jangan lepaskan gigitanmu apapun yang terjadi sampai kita sampai di daerah selatan nanti, Ok”. “Baiklah, terimakasih banyak ya Bang-au, aku tidak akan melepaskan apapun yang terjadi”.
Berangkatlah mereka berdua menuju ke pulau selatan, saat telah melewati padang gersang, kini mereka melintasi hutan dan perkampungan. Kura-kura tak henti-hentinya terbelalak, takjub dengan keindahan panorama dari angkasa, pemandangan yang baru pertama kali ia jumpai seumur hidupnya, betapa inginnya kura-kura berteriak. “WOUW…WOUW… Subhanallah… Indah sekali….Pengalaman pertama yang menakjubkan… WOUW…WOUW…” tapi kura-kura ingat pesan Bangau untuk tidak melepaskan gigitannya, berteriak atau bicara = membuka mulut = jatuh dan mati.
Saat melewati salah satu perkampungan di wilayah Jawa, mereka melintasi segerombolan anak-anak sedang bermain di sebuah tanah lapang, demi melihat ada Kura-Kura yang terbang bersama Bangau mereka berteriak-teriak dengan pemandangan langka itu, “Ono bulus… Ono Bulus.. Hoi..Bulus…Bulus..”.
“Ha.. apa kata mereka??.. Bulus?.. Enak saja aku kan Kura-kura, masak dibilang Bulus..” Kura-kura ngedumel dalam hati, tercabik hatinya tidak rela dengan sebutan itu. Dia berusaha keras untuk tidak memperdulikannya. Tapi saat teriakan semakin heboh, “Bulus….Bulus…” Panas hatinya tidak terima, marah dia, dan dengan emosi diapun berteriak, “AKU KURA-KURA…. BUKAN BU….” Belum selesai kalimatnya baru dia sadar sedang terjun bebas dari ketinggian 50 meter dari permukaan tanah, diiringi bangau yang kaget dan terpana dengan apa yang terjadi. Dan…..BUMM…. Kura-kura terjatuh dan anak-anak berlari menghampirinya berkerumun, dan…”Buluse mati…Buluse mati”….
Innalillahi….
Demi sebutan, predikat dan prestise kadang kita menjadi marah dan mempermalukan diri sendiri…